Showing posts with label Sesama Wanita. Show all posts
Showing posts with label Sesama Wanita. Show all posts

Devi, Kekasihku

Devi, Kekasihku


Hai, namaku Felicia. Aku adalah murid salah satu SMU Swasta. Aku duduk di kelas satu dengan umur 16 tahun. Aku termasuk pintar di antara teman-temanku. Kata teman-temanku, aku termasuk cantik. Sebenarnya aku juga merasa begitu sih. Habis kalau aku lewat, banyak teman-teman cowok yang memandangiku dengan tatapan yang penuh gairah birahi. Aku juga mempunyai bentuk tubuh yang ideal. Aku cukup tinggi atau mungkin terlalu tinggi. Tinggiku 173 cm dengan berat badan 45 kg. Rambutku sebenarnya panjang namun baru-baru ini aku memotongnya hingga sebahu. Dengan penampilan baru ini, aku semakin menjadi perhatian teman-temanku. Dadaku tidak terlalu besar namun padat. Ukuran bra 32B. Kulitku putih mulus tanpa ada cacat. Aku sendiri sebenarnya mengagumi bentuk tubuhku ini. Aku termasuk aktif di sekolah. Itulah pula yang menyebabkanku populer. Pergaulanku pun menjadi luas. Sebenarnya di kelasku ada 5 orang yang juga cantik. Bahkan ada yang lebih menarik dariku.


Ketika itu, aku sedang berjalan-jalan di mall dengan Devi. Devi adalah teman sekelasku yang termasuk dalam 5 orang cantik di kelas. Dia cantik dan manis. Devi sangat berbakat dalam bermain basket. Dia termasuk pemain inti. Apalagi tubuhnya yang tinggi menunjang kegiatan tersebut. Devi bahkan lebih populer dibandingkan denganku. Kulitnya tidak terlalu putih namun mulus. Rambutnya lebih pendek dari rambutku. Aku adalah teman baiknya. Kami sering berjalan-jalan bersama, seperti sekarang kami sedang menonton film Love Stink. Kami pun terpingkal-pingkal melihat aksi film itu yang konyol. Sering pula kami tertawa kecil melihat adegan-adegan yang agak porno.

Selesai menonton, kami pun keluar dari bioskop. Jam Hello Kitty-ku sudah menunjukkan angka 8 ketika kami akan pulang dari mall. Aku meminjam HP Siemens Devi untuk menghubungi rumahku. Aku meminta orang tuaku untuk menjemputku. Namun ternyata mereka tidak dapat menjemputku. Setelah berunding, akhirnya diambil keputusan, aku menginap di rumah Devi. Hal itu bukan yang pertama bagiku. Akhirnya aku ikut Devi ke rumahnya. Rumahnya tidak terlalu besar namun sangat nyaman. Orang tua Devi sudah kenal baik denganku.

Pulang dari mall, kami segera masuk ke kamar Devi. Kami ngobrol dengan bebasnya sampai kami diundang oleh orang tua Devi untuk makan. Seusai makan, kami mandi untuk membersihkan badan. Kami segera mengenakan pakaian tidur. Devi meminjamkan baju Hello Kitty warna pink dan celana pendek warna merah kepadaku. Devi sendiri mengenakan baju tidur kesukaannya yang berwarna biru.Kami membicarakan tentang film tadi. Kuperhatikan tubuhnya yang dibalut baju kesukaannya. Kadang-kadang aku iri dengan dirinya. Dia memang tidak pintar namun dia lebih populer dariku.

Setelah lama kuperhatikan ternyata dia tidak mengenakan BH. Kemudian kupandangi bagian depan tubuhnya dan ternyata memang dadanya lancip. Terlihat samar-samar puting susunya. Aku memang belum pernah melihat tubuh Devi secara langsung. Devi tampaknya tidak menyadari sama sekali bahwa aku sedang mengamatinya. Kami terus membicarakannya sampai mengantuk. Dan akhirnya kami tidur. Kami tidur di satu ranjang karena ranjang Devi termasuk lebar.

Tengah malam kurasakan ada seseorang yang meraba-raba tangan dan pahaku. Aku terbangun dan menemukan Devi sedang di atas tubuhku. Dia terlihat sekali sedang terangsang. Mungkin film yang tadi siang kami tonton telah membangkitkan imajinasinya. Menerima perlakuannya yang terus-menerus, akhirnya aku pun terangsang. Kubalas perlakuannya dengan mencium mulutnya yang mungil. Kubiarkan lidahku beradu dengan lidahnya di dalam mulut kami. Tanganku pun mulai menjelajah ke dalam balik bajunya. Kubuka bajunya dan kutemukan sepasang bukit kembar yang ternyata besar dan kenyal tanpa terbungkus oleh BH. Harus kuakui bahwa ternyata bentuk payudaranya lebih bagus dari milikku. Payudaranya telah menegang. Devi pun telah melepas bajuku dan kini dia sedang menciumi payudaraku. Aku mengeluarkan rintihan-rintihan kecil. Devi sangat ahli dalam melakukannya. Dia mencium perlahan dadaku, lalu memuntir-muntir puting susuku, menggigitnya perlahan. Aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kudapatkan sebelumnya. Aku memang belum pernah melakukan hubungan seks dengan cowok apalagi dengan cewek. Bermasturbasi saja aku belum pernah.

Aku pasrah saja terhadap arus kenikmatan yang diberikan Devi. Devi yang melihat ketidakberdayaanku pun menggencarkan serangannya. Sampai akhirnya Devi menghentikan ciumannya, dan mulai membuka celana tidurku. Lalu terlihatlah gundukan hitam di dalam celana dalamku. Devi membelai perlahan celana dalamku itu. Ketika belaiannya mengenai kemaluanku, kurasakan sensasi yang sungguh sangat luar biasa. Apalagi setelah itu Devi melepaskan celana dalamku dan membelainya tanpa dihalangi apapun. Tak ada kata yang mampu melukiskan betapa nikmatnya sensasi tersebut. Aku menggelinjang terus kenikmatan. Belaian itu semakin cepat dan cepat. Begitu ahlinya Devi melakukannya sampai-sampai aku lalu merasakan dorongan dari dalam tubuhku. Aku membusurkan badanku untuk menahan gejolak yang membara dalam diriku. Aku merasa lemas dan baru kusadari bahwa keringat telah membasahi permukaan kulitku.

Devi membiarkanku merasakan orgasmeku yang pertama ini selama beberapa saat. Lalu Devi mendudukanku, membuka kedua pahaku dan menahannya dengan tangannya. Devi menjulurkan lidahnya untuk meraih kemaluanku di depan wajahnya. Aku mengerang kenikmatan. Namun Devi tak menghiraukannya. Ia terus menikmati kemaluanku. Lidahnya masuk ke dalam kemaluanku dan mencari-cari daging kecilku. Setelah menemukan G-Spot-ku, ia menjilatnya dan menghisap-hisapnya. Sungguh kacau perasaanku saat itu, tak dapat kukatakan betapa nekatnya perlakuan Devi itu.

Tak lama kemudian, akhirnya aku kembali mengejang dan kemaluanku mengeluarkan cairan kenikmatan untuk yang kedua kalinya. Kali ini Devi terus melahap kemaluanku dan menelan semua cairan yang kukeluarkan. Rasanya sungguh aneh namun nikmat. Lalu, tangan Devi kembali bermain, dimasukkannya sebuah jari ke dalam milikku. Kurasakan sakit yang melanda kemaluanku. Jari itu keluar masuk perlahan, namun temponya bertambah cepat. Ketika Devi menambah jumlah jarinya yang masuk, kurasakan kemaluanku berdenyut-denyut menjepit kedua jari Devi. Aku sunguh-sungguh terbius oleh kenikmatannya kali ini. Nafasku semakin memburu, beradu dengan kecepatan tangannya. Nikmatnya membuatku tak dapat bertahan lama. Akhirnya aku keluar lagi untuk yang ketiga kalinya. Kali ini, Devi melahap semua cairanku dan mencium bibirku untuk membagi cairan kenikmatan tersebut.

Setelah membantuku mengalami tiga kali orgasme, Devi memintaku untuk memuaskannya. Kuarahkan ciumanku ke arah dadanya dan kuperlakukan dadanya seperti apa yang ia lakukan padaku. Lalu sambil menciumi dadanya, kujelajahkan tanganku ke daerah bawah tubuhnya. Lalu tanpa membuka celananya, kutempatkan tanganku di tengah-tengah pahanya. Kurasakan celananya sudah basah oleh cairan. Kugesek-gesekkan tanganku di sana. Lalu kulepaskan celananya dan kuciumi kemaluannya. Devi terus mengerang tanpa henti. Dia terus menarik rambutku. Aku berusaha menemukan klistorisnya. Kuhisap-hisap klistorisnya ketika kutemukan daging kecil itu. Kugigit-gigit kecil tonjolan itu. Ketika sedang enak-enaknya menghisap, tiba-tiba badan Devi mengejang. Wajahku yang berada di antara pahanya pun tersembur cairan itu. Kulahap semua cairan itu dan kumasukkan ke mulut Devi melalui French Kiss.

Kubuka kedua bibir kemaluan Devi yang basah itu lalu dimasukkan jari tengahku ke dalamnya. Kumasukkan perlahan karena takut Devi kesakitan. Benar saja, Devi sudah kesakitan. Jariku serasa dijepit oleh kemaluannya. Aku dapat merasakan denyut kemaluannya. Kugerakan keluar masuk dengan perlahan dahulu, namun ketika Devi sudah tidak merasa kesakitan, kupercepat tempo permainan. Lalu Devi menyuruhku ikut memasukkan jari telunjukku. Walaupun sudah dua jariku berada di dalam kemaluannya, Devi tak kunjung mendapatkan klimaksnya. Padahal aku sudah melakukannya dengan kecepatan yang tinggi. Devi kulihat sudah sangat tersiksa dengan keadaannya. Wajah Devi saat itu tak mungkin kulupakan. Wajahnya sungguh sangat berbeda dengan wajahnya yang biasa. Wajahnya sungguh merangsang. (Mungkin bila ada cowok yang melihatnya mungkin penisnya sudah tegang maksimal).

Setelah sekian lama, akhirnya Devi mencapai klimaksnya juga. Cairan yang keluar dari kemaluannya sangat banyak. Kali ini aku melahapnya semua. Kami duduk saling menatap. Kulihat tubuh Devi berkeringat di bagian dadanya. Rupanya dia sangat capai. Semakin kuamati tubuhnya, semakin ada perasaan aneh menjalar di hatiku. Aku masih belum sadar apa yang terjadi padaku saat itu. Sekian lama hening, Devi mengambilkan handuk untukku. Aku sungguh senang dengan sikapnya itu apalagi Devi sendiri yang mengusap keringat di tubuhku. Aku merasa aman, dilindungi. Setelah itu, Devi membelai rambutku dan aku pun bersandar pada dadanya. Tak terasa, kami pun tertidur sampai pagi.

Pagi harinya, ketika aku bangun, kulihat Devi masih tertidur lelap di sampingku. Wajahnya menunjukkan perasaan puas dan senang. Aku berusaha keluar dari tempat tidur perlahan karena tak ingin membangunkan Devi. Aku pakaikan selimut ke tubuhnya yang polos itu. Lalu aku segera mengenakan pakaianku dan keluar untuk menemui kedua orang tuanya. Ternyata kedua orang tuanya pergi menginap ke Bandungan kemarin malam. Aku merasa lega, karena aku sempat takut perbuatanku tadi malam diketahui oleh orang tua Devi. Tadi malam jeritanku dan Devi cukup keras untuk didengar orang rumah. Aku segera masuk kembali ke kamar, namun aku tidak menemukan Devi di ranjang. Pakaian Devi yang terjatuh di lantai pun sudah tidak berada di tempatnya. Lalu aku mencarinya ke halaman belakang rumah yang terdapat ring basket. Di sanalah Devi berada. Rupanya Devi sedang berolahraga. Devi memanggilku untuk berolahraga bersamanya, namun aku menolaknya. Aku hanya memandangi Devi dan tubuhnya dari pinggir lapangan.

Tak lama kemudian, kami pun masuk kembali ke dalam rumah. Aku ingin mandi terlebih dahulu sebelum makan, maka kukatakan pada Devi agar dia makan dahulu. Devi pun mengiyakan. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi mewah di kamar Devi. Kamar mandi itu sungguh mewah. Dindingnya berwarna krem, bath up-nya luas, cukup untuk menampung 3 orang. Aku ingin sekali memiliki ruang mandi seperti itu. Aku segera melepas seluruh pakaianku dan bersiap untuk mandi. Kunyalakan air panas di bath up. Aku ingin sekali berendam di air panas. Sambil menunggu air panas, aku berdiri memandangi cermin di depanku. Tanpa sadar, kupegang bagian tubuh yang kubanggakan ini. Kucoba membandingkannya dengan milik Devi. Aku menjadi teringat akan kejadian tadi malam. Tubuh mulus Devi, sentuhan tangan Devi, permainan lidah Devi. Mengingat semua hal itu, membuat tubuhku merasa panas. Kucoba mengalihkan perhatianku dengan merendam tubuhku di bath up yang sudah terisi separuhnya. Kumatikan aliran air, sehingga kini tidak ada bunyi apapun di kamar mandi tersebut, kecuali bunyi air yang kutepuk-tepuk. Aku segera melupakan masalah tadi.

Tiba-tiba kudengar bunyi derit pintu dibuka. Ternyata aku lupa mengunci pintu kamar mandi. Aku segera tahu siapa yang membuka pintu, karena ada suara lembut yang terucap dari si pembuka pintu. Devi rupanya menanyakan apakah ia boleh mandi bersamaku. Entah sadar atau tidak, aku menganggukan kepalaku. Devi mulai melepas pakaiannya. Mulai dari bajunya. Gaya Devi ketika melepas bajunya rupanya mampu menimbulkan gejolak di hatiku. Tubuh bagian atas Devi kini sudah tidak berbalut apapun. Lalu tangannya mulai merambah perutnya terus ke bawah. Diturunkannya perlahan celananya dan tampaklah kini gundukan hitam di tengah-tengah selakangannya. Kini Devi berjalan ke arahku dan mulai memasuki bath up bersamaku. Dia mengambil tempat tepat di depanku. Devi menyelonjorkan kakinya dan mulai menikmati nikmatnya air panas. Devi sekali-kali menatap tubuhku dengan pandangan yang berbeda dari tatapannya yang biasa. Tak jarang kami bertemu pandang, namun Devi cuek-cuek saja.

Aku sebenarnya senang-senang saja dipandangi oleh Devi karena aku juga senang bisa melihat tubuhnya. Timbul pikiran di otakku, untuk merangsang Devi. Aku sangat ingin menikmati kenikmatan seperti yang dia berikan tadi malam. Aku mulai mencoba gerakan-gerakan yang dapat merangsangnya. Kupegang-pegang dadaku dan mendesah halus. Lalu kulebarkan kedua kakiku. Devi menangkap isyaratku. Dia mendekatiku dan mencium bibirku. Lumatan bibirnya yang hebat sungguh membuatku tak ingin kalah. Kucoba mengimbangi ciuman Devi. Lidah kami saling beradu di dalam mulutku. Tak hanya itu, tangannya sudah mulai merambah ke dadaku. Aku juga memainkan kedua bukit kembarnya. Lalu aku menurunkan ciumanku ke lehernya. Devi mendesah-desah kecil.

Ketika ciumanku sampai di dadanya, kurasakan nafas Devi sudah tidak beraturan. Kujilati seluruh bagian payudaranya, kupermainkan putingnya dengan lidahku. Payudara Devi sudah mulai mengeras, bentuknya pun menjadi lebih indah dan kini payudaranya sudah mengacung tegak. Aku lebih bernafsu untuk merasakannya. Kuturunkan lagi ciumanku ke bagian kemaluannya. Kujilati bibir kemaluan Devi, lalu kumasukkan lidahku ke bagian dalamnya. Kucari-cari klistorisnya di setiap dinding kemaluan yang terkena lidahku. Sampai akhirnya aku menemukan apa yang kucari. Kuhisap-hisap daging kecil itu dan kugigit-gigit kecil. Nafas Devi kian memburu. Sampai suatu saat, pahanya menjepit kepalaku dan badannya mengejang. Desahan Devi mencapai puncaknya. Cairan hangat tersembur dari dalam kemaluannya. Kutelan semua cairan tersebut.

Devi mengajakku untuk bermain di lantai. (Lantai kamar mandi Devi tidak terlalu keras) Devi terlentang di lantai dan aku di atasnya. Kini aku menciumi kemaluan Devi, dan Devi juga melakukan hal yang sama denganku. Devi sangat ahli melakukannya. Kombinasi jilatan, hisapan, gigitan Devi mampu membuatku keluar terlebih dahulu. Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Cairan hangat meleleh dari kemaluanku. Devi menghisapnya lalu memberikan kepadaku dengan ciuman. Kami pun kembali pada posisi semula. Kali ini kami saling memasukkan dua buah jari. Kami mendesah panjang ketika lubang kemaluan kami diisi dengan jari-jari. Tempo permainan berjalan semakin cepat dan cepat. Kembali, aku keluar terlebih dahulu. Aku memang sangat mudah terangsang.

Setelah aku keluar, Devi pun menyusul. Aku sungguh merasakan lelah. Aku menghentikan tusukanku pada Devi. Namun Devi masih terus memainkan jarinya. Kali ini Devi menusukkan jarinya ke lubang anusku. Aku merasakan sakit yang luar biasa, ketika jari tengah Devi menembus perlahan. Devi pun menggerakkannya perlahan-lahan saja. Anehnya walaupun sakit, aku justru mendapatkan rasa nikmat. Aku tak ingin Devi menghentikan perlakuannya itu. Cukup lama waktu yang diperlukan Devi untuk membuatku mendapatkan orgasme. Namun akhirnya aku mencapainya juga. Kami beristirahat sebentar. Kemudian, Devi mengaitkan kakinya dengan kakiku sehingga kemaluan kami saling menyentuh. Lalu Devi menggesek-gesekkannya. Cara Devi ini berhasil membangkitkan gairahku sekali lagi. Aku pun ikut menggesek-gesekkannya. Desahan ikut mengiringi kecepatan kami. Bunyi permainan kami mampu disamarkan bunyi kran air yang tadi sempat dinyalakan Devi. Tak lama, kami keluar bersama. Ini sungguh nikmat. Perasaanku menjadi sangat nyaman, damai dan puas.

Setelah itu, Devi membawaku ke bath up dan memandikanku. Aku semakin sayang kepada Devi. Devi mengajariku segalanya mengenai seks. Devi juga menceritakan bahwa sebelum berhubungan denganku, dia juga pernah melakukannya dengan 2 cewek untuk beberapa kali. Pengalaman itulah yang membuat Devi mengerti tehnik dan cara untuk memuaskanku.

Sejak saat itu, kami lebih sering terlihat bersama. Di sekolah, di mall, dll. Bisa dikatakan kami berpacaran. Kami sering mengulangi perbuatan itu di rumahku, di rumahnya, maupun di sekolah. Aku sangat menyukai tubuh Devi dalam seragam sekolah. Apalagi seragam sekolahku tipis. Biasanya kalau di kelas (kami duduk semeja), Devi memegang tanganku, meraba pahaku dan perbuatan lain yang mampu merangsangku. Aku pun biasanya menanggapinya. Bagiku Devi adalah kekasih yang mampu memberikan rasa aman pada diriku.

My True Love

My True Love


Sepeninggal Mbak Lina kembali ke Jakarta, karena masa cutinya sudah habis, aku mulai masa avonturirku sebagai seorang lesbian. Bukan berarti aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Mbak Lina, aku masih sering menelepon dia, bahkan liburan semester kemarin, aku main ke tempatnya di bilangan Menteng.

Sejak itu aku berusaha mengenal komunitasku di Jogja, dan akhirnya aku menemukan apa yang aku cari, perkumpulan lesbian di Jogja. Aku tidak menyangka akan menemukannya dalam kondisi Jogja yang serba adem ayem, gemah ripah loh jinawi. Aku pun menemukannya secara tidak sengaja. Waktu itu malam Minggu, aku jalan-jalan menikmati indahnya Jogja, kemudian aku mampir di sebuah Kafe "J" yang lumayan jauh dari pusat keramaian. Yang membuatku tertarik tempat itu kelihatan ramai karena pengunjungnya banyak. Lalu aku pun segera memesan minuman ringan dan makanan, sambil menunggu pesanan mataku menyapu seluruh ruangan, hampir semua pengunjung kafe ini adalah perempuan dan menurut perkiraanku mereka rata-rata masih mahasiswa.


Tiba-tiba seorang gadis yang baru datang menyapaku,
"Hi, boleh duduk semeja nggak?" sapanya lembut, aku terperangah, aku mengagumi kecantikannya sampai-sampai aku lupa menjawab sapaannya.
"Eh... oh... boleh... boleh koq," jawabku.
"Mmm... sendirian aja nih malem Minggu gini..."
"Eh... iya, nggak ada yang bisa di ajak sih," jawabku sekenanya.
"Yeee... garing donk, eh iya lupa, kenalkan... aku Yanti," katanya sembari mengulurkan tangannya, aku pun menyambut tangannya dengan ragu-ragu.
"Bunga..."
"Wow, what a pretty name..."
"Thanks... by the way kamu koq juga sendirian saja? Nggak bawa gandengannya?"
"Yeee... kita khan masih single, masih nyari, abis nggak ada yang cocok seeeh,"

Aku mulai tertarik kepada Yanti, orangnya enak diajak ngobrol dan juga dia cantik, postur tubuhnya hampir sama denganku, hanya saja dadanya lebih kecil dariku. Aku sempat memperhatikannya, dadanya berguncang-guncang ketika kami berdua tertawa, mungkin dia tidak pakai BH, pikirku. Yanti mengenakan paduan antara rok mini, t-shirt dan jaket tapi meski kelihatan sederhana kesannya tetap modis.

Setengah terkejut aku baru menyadari kalau dari tadi Yanti menggosok-gosokkan kakinya ke kakiku sambil melemparkan senyum nakalnya.
"Eh Bunga, boleh nggak aku nanya?" aku hanya mengangguk saja.
"Mmm... kamu udah punya pacar belom sih... malem Minggu kini masa sendirian aja."
"Belum tuh... emang kamu ada kenalan yang cocok buat aku," godaku.
Eeh, dianya malah ketawa-ketiwi, jadi sebel aku.
"Nah... gimana kalo kamu saja yang jadi pacarku saja Yan... kayaknya kita klop deh," godaku lagi.
"Yeee... siapa takut," jawabnya sambil mencubit tanganku.

Yanti kemudian berdiri, kemudian segera menggandeng tanganku dan beranjak menuju toilet, lalu kami berdua masuk ke salah satu bilik toilet.
"Yan... mau ngapain sih?"
"Sstt..." katanya sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirku.
Kemudian dia mendudukkanku di atas toilet, belum sempat aku berkata apa-apa langsung saja dia duduk di atas pangkuanku dan mendaratkan bibirnya yang lembut ke atas bibirku. Aku sempat terkejut, tapi aku kemudian mulai menikmatinya, aku pun membalas melumat bibirnya dengan penuh nafsu. Tanganku bergerak turun meremas pantatnya, Yanti memelukku dengan erat, lidah kami saling berpilin dan beradu. Tanganku mulai merambat naik dan mulai menyusup ke balik kaos ketatnya, dan benar dia tidak memakai BH rupanya, sehingga aku pun dengan mudah bisa memilin dan mempermainkan puting susunya yang terasa tegang. Beberapa lama kemudian nafasnya mulai memburu dan dia berusaha meremas-remas payudaraku. Yanti pun mulai mengeluarkan desahan-desahan yang cukup keras, "Ahhh... shhh... auggghh..." desahnya. Dengan sigap aku membungkam mulutnya, "Yanti... lebih baik jangan di sini, aku takut nanti..." belum sempat aku merampungkan kata-kataku, Yanti mengecup bibirku dengan lembut kemudian berdiri dari pangkuanku. Setelah kami membetulkan pakaian, kami pun beranjak pergi.

Kami pun keluar dari toilet, lalu melewati sekelompok cewek yang sedang bersendau gurau di ujung ruangan. Tiba-tiba ada yang ngomong, "Yanti...! eee Yanti sombong banget sekarang, mentang-mentang udah punya gandengan baru... huuu..." mereka menyoraki kami. Yanti pun berbalik sambil menunjukkan jari tengahnya ke arah mereka, sambil tertawa, "F*** (edited) you girls... hi... hi.. hi, emang nggak boleh apa!" jawabnya sambil berlalu bersamaku keluar dari kafe. Aku baru sadar kalau tadi aku masuk ke kafe yang sering dijadikan tempat kencan dan tempat ngumpul lesbian di Jogja.

Yanti pun terus menggandengku, menyusuri jalan di pusat keramaian Jogja. Sepanjang perjalanan Yanti tidak berhenti bicara, terkadang dia melontarkan "joke-joke"-nya yang agak porno, aku pun cuma tersenyum saja. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, kami kemudian naik becak yang kebetulan ada di dekat situ. "Gang **** (edited), Pak!" kata Yanti sambil menggandengku masuk menaiki becak. Selama perjalanan Yanti menyandarkan kepalanya ke pundakku, aku pun melingkarkan tanganku ke pinggangnya, kupeluk erat tubuhnya, aku merasakan tubuhnya memberiku kehangatan yang mampu mengurangi rasa dinginnya malam. "Kiri Pak!" kata Yanti sambil bergegas turun, tampaknya hujan agak sedikit reda. Ternyata kami turun di depan sebuah rumah yang cukup megah dan terkesan agak ramai, karena sesekali kudengar tawa seseorang di dalam. Dan kupikir ini adalah semacam kos-kosan putri atau rumah kontrakan.

"Yan... kamu kos di sini?" tanyaku.
Yanti cuma senyum-senyum, kami pun masuk ke dalam rumah.
"Ayo masuk... nggak usah malu-malu, anggap saja rumah sendiri."
Aku pun kemudian masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu, sementara Yanti masuk ke dalam, tak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa segelas minuman untukku.
"Eh Bunga... aku ganti baju dulu yah... basah nih entar masuk angin lagi."
Aku cuma mengangguk. Dia pun segera berlalu dari hadapanku. Dan hujan pun tampaknya kembali turun dengan derasnya. Wah sudah malam nih, pikirku, mana hujan deras lagi. Tak lama kemudian Yanti pun keluar dan... ya ampun dia hanya mengenakan celana dalam saja, mungkin dia sudah gila, pikirku, bagaimana kalau ada orang lain yang melihat, kataku dalam hati. Mataku tertumbuk pada sepasang gundukan kembar yang padat berisi dan seakan memanggilku untuk mengulum dan menghisapnya.

"Bunga... santai saja, ini rumahku kok! Anak-anak kos itu tinggalnya di belakang, mereka nggak jadi satu denganku, masuknya juga nggak lewat pintu utama, tapi lewat pintu sebelah rumah... Mmm di rumah juga nggak ada orang, soalnya aku yang mengelola rumah kos ini. Papa sama mama tetap tinggal di Jakarta, dan juga pembantu rumah tangga cuma datang dari pagi sampe sore aja, abis itu pulang!" katanya sambil melemparkan senyum nakalnya.
"Bunga... hujan deras gini... kamu nggak usah pulang yah! Kamu nginep aja di sini, lagian udah malam, nggak baik cewek pulang malam-malam," katanya dengan genit.
Yanti kemudian duduk di sebelahku, dengan manjanya dia melingkarkan tangan kanannya ke pinggangku, sedang kepalanya ia sandarkan ke bahuku.
"Bunga.... aku udah ngantuk nih, bobok yuk!" katanya manja, aku hanya diam saja.
Dia beranjak pergi sambil menggandeng tanganku menuju kamarnya. Aku hanya menurut saja karena aku memang sebenarnya juga sudah ngantuk. Aku pun mengikutinya masuk ke dalam kamarnya yang cukup luas dengan ranjang yang rasanya terlalu lebar untuk dipakai seorang diri. Tanpa canggung kulepas pakaianku sehingga aku pun hanya memakai celana dalam saja, dan aku melihat noda basah di celana dalamku, rupanya tadi aku cukup terangsang sampai-sampai celanaku basah.

Yanti terpaku menatap tubuhku, matanya tertuju pada kedua payudaraku yang cukup padat dan kencang. "Yan... lho... kamu kok malah bengong, katanya ngajakin bobok, udah gih sono bobok, aku juga udah ngantuk," kataku. Kurebahkan tubuhku di samping tubuhnya sambil membelakanginya, tiba-tiba kedua tangannya mendekap tubuhku dari belakang. Yanti mulai menciumi punggung dan tengkukku, membuatku geli. Sementara kedua tangannya tak henti-hentinya memilin kedua puting susuku sampai tegang. Tanpa sadar aku pun mulai mengeluarkan lenguhan-lenguhan panjang karena keenakan.
"Aaahhh... ssstt... ooouuughhh..." lenguhku.
"Yantiii... uuh... kamu jahat banget... ouch... awas kamu..."
Aku pun membalikkan tubuhku. Belum sempat aku bicara, bibir Yanti yang padat membungkam mulutku, dia memelukku dengan erat, dia terus menciumiku dengan penuh nafsu, sampai-sampai aku sulit bernafas. Karena Yanti tak juga mengendurkan pelukan serta ciumannya. Aku tak tahan lagi, langsung saja kucubit dengan keras kedua puting susunya yang tampak sangat tegang dan mengeras.
"Ouch... ih jahat banget... kok maen kasar sih," protes Yanti.
"Yeee... kamu duluan tuh yang kasar, aku kan belum siap," kilahku.
"Tapi kan... punyaku jadi sakit... jahat!" kata Yanti dengan marah.
Dia membalikkan tubuhnya membelakangi tubuhku. Tampaknya dia marah, aku pun mendekatinya, kupeluk tubuhnya dari belakang.

Yanti hanya diam saja, dia tidak memberikan perlawanan, mungkin dia benar-benar marah, pikirku. Kucium tengkuknya dengan penuh kelembutan, dan dia masih tidak bergeming sedikitpun. Tanganku mulai merambat naik ke dadanya, kubelai kedua puting susunya dengan lembut. "Yanti... masih sakit ya... Emm... maafin aku ya... aku khan tadi cuma becanda... please... jangan marah gitu donk." Yanti tidak juga menjawab, yang kudengar hanyalah nafasnya yang mulai memburu. Tanpa ba bi bu langsung saja kubalikkan tubuhnya sehingga terlentang, kemudian kutindih tubuhnya dengan tubuhku. Yanti memejamkan matanya ketika hembusan hangat nafasku menyapu wajahnya, dia tampak pasrah padaku. Kedua dada kami saling berimpit, aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak tidak karuan, nafasnya mulai tersenggal-senggal, kulumat bibirnya yang indah dengan bibirku tanpa memberinya kesempatan sedikitpun untuk membalas perbuatanku. Yanti tidak tahan lagi, dia pun melingkarkan kedua tangannya ke leherku, lidah kami saling bertemu dan berpilin. Sejenak mulai tercium olehku aroma khas kewanitaan yang mulai menyebar di udara, dan tampaknya Yanti pun sudah begitu terangsang, pinggulnya mulai bergoyang-goyang, dan juga ia berusaha menggesek-gesekkan selangkangannya ke tubuhku. Aku pun merasakan hal yang sama dan aku sudah tidak tahan lagi, maka aku pun melepaskan diri dari pelukannya. Segera saja kulepas celana dalamnya, juga celana dalamku yang tampak basah. Begitu kulepas celana dalamnya, jelas tercium olehku aroma khas kewanitaan menusuk hidungku, ini semakin membangkitkan gairahku.

Yanti menjerit tertahan ketika aku menjilat serta mengulum klitorisnya, kemaluannya terasa asin, manis serta gurih di lidahku. Kedua tangan Yanti menahan kepalaku agar aku tetap menjilati kemaluannya. "Oouughhh... aaakh... Bunga... geli banget.. ssshhh... terus... enak koq... aahhh..." Yanti meracau tidak karuan. Tiba-tiba dia berhenti meracau, pinggulnya terangkat, dan aku sempat melihat mimik wajahnya yang seakan menahan kenikmatan yang tiada tara, dan akhirnya pinggulnya mengejang serta aku merasakan kemaluannya semakin basah dan basah. Setelah mengejang beberapa kali akhirnya ia pun terkulai lemas di ranjang sambil mulai mengatur nafasnya yang tidak menentu. Kuambil tisyu untuk membersihkan kemaluannya yang basah. Yanti masih tidak berani menatapku, dia balikkan tubuhnya membelakangiku. Tampaknya dia lelah, pikirku, atau mungkin dia masih marah padaku. Kududuk di samping tubuhnya yang tergolek lemas, kubelai rambutnya yang indah tergerai. "Yanti... mmm... kamu masih marah nggak sama aku?" Yanti tidak menjawab, dia hanya menggeleng pelan. Akhirnya aku pun bisa bernafas lega, akhirnya dia tidak marah lagi padaku. Kumatikan lampu, kemudian kubaringkan tubuhku di samping tubuhnya, aku pun merasa lelah. Tiba-tiba Yanti membalikkan tubuhnya dan memelukku dengan manja. "Bunga... I love you," katanya sambil mengecup bibirku. Yanti pun tertidur dalam pelukanku.

Semenjak itu kami menjadi sepasang kekasih, dalam hatiku aku percaya bahwa dia adalah cinta sejatiku. Niat kami untuk hidup bersama sebagai sepasang kekasih akhirnya tercium juga oleh kedua orangtuanya. Begitu mengetahuinya, mereka langsung ke Jogja dan menemui kami berdua. Mereka berpikir bahwa niat kami tersebut terlalu mengada-ada, apa kata masyarakat sekitar nanti, kata mereka. Mereka menanyakan kesungguhanku untuk hidup bersama anak gadis mereka. Aku tahu mereka tidak ingin anak gadis mereka disia-siakan hidupnya olehku. Mereka tergolong orang yang moderat, sehingga ketika mereka tahu benar akan kesungguhanku, mereka merestui hubungan kami berdua dengan berbagai syarat yang aku sendiri merasa kewalahan untuk memenuhinya. Tapi bagiku itu tidak mengapa, selama aku bisa bersama dengan Yanti, kekasih yang kucintai. Persetan dengan petualangan cintaku, pikirku. Yanti adalah seorang gadis yang manja, meski usianya tiga tahun lebih tua dariku. Ia baru saja lulus dari sebuah perguruan tinggi swasta di Jogja, tapi ia masih menganggur, katanya ia masih ingin menikmati masa mudanya.

Aku bukan cewek butch (tomboy), aku lebih cenderung bersifat femme, tapi Yanti justru menyukai cewek yang menonjolkan sisi feminisnya. Baginya, cewek "butch" sama kasarnya dengan cowok, terus kalau begitu apa bedanya "butch" sama cowok, kata dia.

Kini kami adalah sepasang kekasih yang memadu cinta. Selama aku hidup bersamanya dia tidak pernah mengekang keinginanku, bahkan dia tidak melarangku untuk bercumbu dengan wanita lain, asalkan aku hanya memberikan cintaku untuknya. Betapa luhur hatinya, dan aku berjanji tidak akan mengecewakannya.

Kisah ini kutulis atas persetujuan Yanti, sekedar untuk dijadikan bahan kajian, bahwasanya kami, di antara sesama kaum wanita juga bisa tumbuh cinta yang sejati, bukan hanya cinta yang berdasar atas nafsu dan emosi.

Tante Rahayu dan Temannya

Tante Rahayu dan Temannya
Kepada para pembaca yang belum kenal denganku, kuperkenalkan diriku dulu yach. Aku adalah penulis Gairah Sesama Jenis dan Tante Rahayu. Berikut adalah kisahku yang lain yang juga berhubungan dengan Tante Ayu. Setelah hubungan seksku dengan Tante Ayu, aku pernah juga memulai dengan teman pria, namun entah, menurutku kok rasanya biasa-biasa saja.

Saat itu hari Sabtu siang, ketika Tante Ayu sedang ada di Jakarta dan ia meneleponku (mungkin no.HP-ku, ibuku yang memberikan), untuk datang ke sebuah motel kecil di daerah Tebet, karena ada suatu hal yang penting katanya. Aku saat itu tidak yakin Tante Ayu ingin mengajakku 'bermain', karena biasanya Tante Ayu bilang terus terang (jika ia memang ada di Jakarta) hasratnya memang butuh pelampiasan. Namun dari tempat pertemuannya aku yakin ia ingin 'bermain' karena motel tersebut adalah salah satu tempat orang sering bercinta.

Setelah sampai di Motel R**** (edited), yakni di samping Universitas Sahid Tebet, aku bertemu Tante Ayu di lobby (yang sangat kecil). Ketika aku sampai di kamar tante Ayu, barulah aku tahu kenapa ia tidak berterus terang karena di kamarnya ada tamu, seorang wanita, dan Tante Ayu pun memperkenalkannya kepadaku, namanya Tante Santi.


Orangnya sangat cantik, tipe wanita karier. Dengan hidungnya yang mancung, bibirnya yang sensual, rambutnya yang sebahu, wajah Tante Santi boleh dibilang benar-benar mirip sekali dengan salah seorang penyiar yang pernah kulihat di TVRI, kalau tidak salah yang namanya Gina Sonia (mohon maaf.. ini hanya sekedar perbandingan saja). Selain itu Tante Santi juga memiliki tubuh yang tinggi dan langsing, benar-benar menambah kecantikannya, dan pada saat itulah fantasiku mulai merana, untuk bermain bertiga yakni aku, Tante Ayu dan Tante Santi.

Singkat cerita, kami bertiga ngobrol-ngobrol cukup lama, sampai akhirnya Tante Ayu memperingatkan Tante Santi, "Oh iya San, katanya kamu bawa oleh-oleh buat Sari.." katanya. "Oh iya, aku sampai lupa..." Rupanya Tante Santi memberikan sebuah hadiah, yang katanya sich sebagai hadiah perkenalan. Setelah kubuka, rupanya Tante Santi membelikan sebuah gaun pesta yang indah sekali dengan model bagian atas bahu terbuka, yang hanya digantung dengan tali kecil. Menurutnya ia membelikan ini atas saran dari Tante Ayu.

Setelah aku berterima kasih, akhirnya aku pun disuruh mencobanya di depan mereka. Aku sih menurut saja. Aku mulai membuka pakaianku, tapi Tante Ayu memaksaku untuk melepaskan bra-ku juga karena nanti jadi tidak bagus jika memakai gaun itu karena akan kelihatan, katanya. Sebenarnya aku agak risih juga karena di kamar ada Tante Santi, namun karena Tante Ayu memaksa (dan memang keinginanku untuk ML dengan Tante Santi), yah kuturuti saja. Aku membuka bra-ku sambil membelakangi mereka, namun kurasa Tante Santi juga bisa melihat buah dadaku lewat cermin besar di depanku. Setelah mencoba gaun itu beberapa saat, aku pun melepaskannya.

Namun alangkah kagetnya aku begitu gaunku terbuka, Tante Ayu menarik tanganku dan memelukku dari belakang sambil menciumi leherku, dan tangannya meremas-remas buah dadaku. Edan!, masa Tante Ayu melakukan ini di depan temannya sich, aku benar-benar heran. Sebenarnya aku malusekali dikerjai di depan Tante Santi (walau aku mau), mau protes, tapi nggak bisa, tapi tampaknya Tante Santi tidak terkejut sedikitpun.

Tak berapa lama Tante Ayu berkata, "Sar.. boleh kan kalau Tante Santi ikut bergabung..?" Aku yang ketika itu, birahiku sudah naik karena diperlakukan begitu, hanya mengangguk saja sambil malu-malu. Sambil tersenyum, Tante Santi pun langsung mendekatiku sambil bilang, "Sar.. boleh kan Tante ikutan...?" Sekali lagi aku hanya mengangguk malu-malu.

Tante Santi mulai mengecup bibirku, lalu memainkan lidahnya, setelah itu dijilatinya leherku terus ke bawah ke dadaku, dijilat dan diisap-isapnya puting susuku, aku menggelinjang-gelinjang kegelian. Jilatan Tante Santi turun lagi, ke perutku. CD-ku diloloskannya ke bawah, sementara Tante Ayu tetap memelukku sambil meremas buah dadaku dari belakang. Tante Santi mengangkat kaki kananku, sehingga pahaku menumpang di pundaknya, lalu ia mulai menjilat kemaluanku, "Aduh gelinya.." Dengan semangat Tante Ayu menjilati klitorisku, dan kadang-kadang dimasukkan lidahnya ke dalam liang senggamaku, menjilati semua yang ada di dalamnya. "Aaahhh.." aku menggelinjang-gelinjang kegelian dan keenakan, lututku lemas sekali, aku sampai tak kuatberdiri, tubuhku serasa melayang, namun Tante Ayu memelukku dari belakang hingga aku tidak merosot ke bawah. Aku bahkan sampai tidak dapat merasakan kaki kiriku menyentuh tanah.

Beberapa menit aku diperlakukan nikmat, namun agaknya Tante Ayu kasihan melihat keadaanku, lalu digendongnya tubuhku, sambil ketawa-ketiwi mereka berdua membaringkan tubuhku terlentang di atas ranjang. Aku tidak dapat mengungkapkan perasaanku, tapi yang jelas karena permainan dihentikan sementara, aku jadi seperti kebingungan karena birahiku sudah sangat tinggi, ingin segera dilanjutkan rasanya. Namun mereka tampaknya malah menurunkan tempo permainan, menggantinya dengan yang lain. Tante Ayu menjilatiku dari atas, dari wajahku terus sampai buah dadaku. Dan Tante Santi menjilatiku dari ujung kaki, terus.. ke betisku.. ke pahaku.. dan akhirnya sampai ke selangkanganku.

Aku rasanya jadi semakin gila diperlakukan begini. Untunglah mereka tahu akan hal ini, Tante Ayu kembali meremas-remas, sambil menjilati dan mengisap-isap puting buah dadaku. Dan Tante Santi kembali menyerang liang senggamaku dengan buasnya. Dengan buasnya mereka berdua menikmati tubuh mungilku ini. "Aaahhh..." rasanya seperti melayang di awan. Entah aku tak bisa berpikir apa saja yang dilakukan mereka kepadaku. Aku hanya bisa merasakan kenikmatan yang amat sangat, kegelian yang luar biasa enak dari buah dadaku yang dikerjain Tante Ayu, dan yang terutama dari klitorisku dan dari dalam kemaluanku, yang dikerjain Tante Santi habis-habisan. Seluruh tubuhku rasanya bergelinjang semua.

Akhirnya aku tak kuat lagi menahannya, rasa seperti ingin pipis tiba-tiba menyerangku, aku ingin menahannya, tapi tak kuat rasanya dan, "Aaahhggghh.." aku menjerit kuat. Keluarlah semua, nikmatnya selangit, perasaanku seperti melayang-layang.. "Nikmaaat sekali..." Tante Santi dengan rakus tampaknya menyedot apa saja yang ada dalam kemaluanku, sampai tubuhku lemas.

Kemudian aku diberinya istirahat beberapa menit, tapi kemudian mereka kembali menjalankan aksinya. Tante Santi mengatakan kepadaku bahwa ia bisa membangkitkan semangatku kembali. Lagi-lagi aku harus pasrah saja. Sementara Tante Ayu mengusap-usap buah dadaku, Tante Santi mulai memijat telapak kakiku, aku merasa enak dan nikmat, lalu tanpa segan-segan, Tante Santi dengan nafsu menciumi dan menjilati telapak kakiku yang mulus, "Iiihhh.. geli rasanya..."

Setelah ia puas, aku disuruhnya telungkup. Tante Ayu memijat punggungku, dan Tante Santi kembali memijat telapak kakiku, terus ke atas.. ke betis.. dan ke buah pantatku. Tiba-tiba dengan nakalnya jari Tante Santi masuk melalui celah pantatku mengoles bibir kemaluanku, "Aaahhh..!" aku menjerit kaget, dan mereka kembali ketawa-ketiwi lagi. Lalu melalui celah pantatku itu tangan Tante Santi mulai membelai-belai kemaluanku dari belakang, "Aaah.. nikmatnya..."

Mungkin mereka tahu jika nafsuku sudah bangkit kembali, mereka mulai melakukan permainannya kembali. Tante Santi bangkit dari tempat tidur, dan mengambil sesuatu dari tasnya, Wah rupanya peralatan-peralatan perang, rupanya itu adalah penis karet, lalu ada penis yang ada talinya, dan semacam penis yang bisa bergetar yang kemudian baru kuketahui namanya vibrator.

"Sar, apa kamu sudah pernah coba pakai yang seperti ini..?" tanya Tante Santi.
"Ng... belum Tante," sahutku.

Tanpa basa-basi lagi mereka segera memulai permainan. Mereka berdua melepaskan seluruh pakaiannya sehingga aku bisa melihat tubuh Tante Santi yang seksi dan mulus sekali. Kali ini Tante Ayu berbaring di atas ranjang, namun aku juga disuruhnya berbaring terlentang di atas tubuhnya, sehingga Tante Ayu bisa dengan leluasa meremas-remas buah dadaku. Tante Santi mencium lalu melumat bibirku, mengulumnya, dan memainkan lidahnya. Kemudian ia mulai melanjutkan ke bagian bawah, ke kemaluanku. Dijilatinya klitoris dan kemaluanku sampai basah. Lalu diambilnya penis karetnya, digosok-gosokannya dulu ke kemaluanku, setelah itu baru perlahan-lahan ia mulai memasukannya. "Aaakhh..." susah juga masuknya, karena walaupun telah basah, tapi memang masih sempit.

Setelah berhasil masuk setengahnya, Tante Santi mulai mengocoknya perlahan, makin lama makin cepat, sambil jarinya mengesek-gesek klitorisku, "Aaaahhh gila enaknya..." Membuatku kembali orgasme. Namun itu tak menghentikan permainannya, kembali aku dirangsangnya oleh mereka dengan jilatan-jilatan. Kali ini Tante Santi rupanya ingin mencoba penis yang ada talinya, sehingga bisa diikat ke pinggang dan selangkangannya. Aneh dan lucu memang, sepertinya Tante Santi memiliki penis betulan. Kali ini dikangkangkannya kakiku dan Tante Santi mulai memasukan penis karetnya ke kemaluanku, dan mulai memompanya. Kelihatan sepertinya Tante Santi sedangmenyetubuhiku. Ia terus mengocok kemaluanku sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan erotis, sampai akhirnya aku tidak tahan lagi dan kembali orgasme.

Sebenarnya aku sudah lemas, namun mereka merayuku agar aku mau mencoba alatnya yang terakhir. (Ah, aku jadi seperti kelinci percobaan, tapi memang nikmat sich). Dengan rayuannya akhirnya aku mau saja mencoba yang terakhir, katanya penis yang memakai vibrator. Kembali mereka membangkitkan birahiku, memang luar biasa sekali pengalaman mereka tampaknya. Setelah menjilatikemaluanku, Tante Santi mulai memasukkan penis itu, aku tak tahu apa yang akan terjadi, kukira seperti tadi saja rasanya. Tapi begitu penis karet itu sudah masuk semua ke dalam kemaluanku, Tante Santi mulai menyalakan vibratornya (penggetarnya). "Aakkkhhh...!" Aku benar-benar tersentak kaget, rasanya geli sekali, benar-benar dahsyat, apalagi ditambah dengan gesekan jari Tante Santi pada klitorisku. "Ampuuunnn..." Aku menggelinjang-gelinjang, kelojotan kesana-sini karena saking tidak tahannya aku, dan rupanya Tante Ayu yang mendekapku dari bawah sudahmengaturnya, sambil memelukku erat, kedua kakinya, mengangkangkan kedua kakiku, dan masing-masing kakinya mengapit masing-masing kakiku, sehingga kakiku tetap terbuka mengangkang, dan aku tidak bisa mengapitkan kedua pahaku walaupun sangking gelinya.

Penis itu bergetar di dalam kemaluanku, dan bahkan bisa berlenggak-lenggok, meliuk-liuk di dalam. "Gilaaaa.. ini benar-benar kenikmatan yang paling hebat yang pernah kualami. Aku menjerit-jerit bagai kesurupan, "Aaaakkkhhh.. Tanteee.." Namun semakin lama Tante Santi malahan semakin cepat mengocokkan penis vibrator tsb di dalam kemaluanku, dan juga mempercepat gesekan jarinya di klitorisku. "Aaaakkhhh..! Gilaaa.. Ampuunnn.." aku benar-benar tidak tahan, perasaan mau pipis yang kali ini muncul sangat dahsyat, hingga akhirnya tubuhku yang kelojotan tiba-tiba mengejang dengan amat kuat, dan, "Aaagggkkhhh.." meledaklah kenikmatan yang amat dahsyat, amat luar biasa, puncak kenikmatan yang tak dapat terlukiskan, dunia serasa berputar-putar, aku serasa melayang-layang, tulang-tulangku terasa lolos hingga akhirnya lemas lunglai seperti selembar kertas.

Masih sempat kulihat mereka berdua bercanda sambil berebutan menjilati cairan kemaluanku baik yang masih tertinggal di dalam kemaluanku yang dijilat sambil disedot-sedot, yang berlelehan keluar, bahkan yang berlelehan di batang penis vibrator itu.

Akhirnya aku tidur dalam pelukan Tante Ayu dan Tante Santi. Tante Ayu memelukku erat dari belakang, dan Tante Santi memelukku erat dari depan, sesekali mereka dengan mesra dan gemas menciumiku. Dengan tubuh yang sangat letih dan lemas, tidur dalam pelukan mereka rasanya lembut, hangat dan luar biasa. Sungguh pengalaman yang tak akan pernah kulupakan.

Jude, Guru Privatku

Jude, Guru Privatku
Memiliki rupa yang cantik tidak selamanya menguntungkan. Memang banyak lelaki yang tertarik, atau mungkin hanya sekedar melirik. Ada kalanya wajah menentukan dalam mendapatkan posisi di suatu pekerjaan. Atau bahkan wajah dapat dikomersiilkan pula.

Tapi aku tidak pernah mengharapkan wajah yang cantik seperti yang kumiliki saat ini. Aku juga tidak pernah menghendaki tinggi badan 163 centimeter dengan berat 52 kilogram. Tidak juga kulit putih merona dengan dada ukuran 36B. Tidak! Sungguh, semua itu justru membawa bencana bagiku.

Bagaimana tidak bencana. Karena postur tubuh dan wajah yang bisa dinilai delapan, aku beberapa kali mengalami percobaan pemerkosaan. Paling awal ketika aku masih duduk di bangku esempe kelas tiga. Aku hampir saja diperkosa oleh salah seorang murid laki-laki di toilet. Murid laki-laki yang ternyata seorang alkoholik itu kemudian dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah. Tapi akupun akhirnya pindah sekolah karena masih trauma.

Di sekolah yang baru pun aku tak bisa tenang karena salah seorang satpamnya sering menjahilin aku. Kadang menggoda-goda, bahkan pernah sampai menyingkap rokku ke atas dari belakang. Sampai pada puncaknya, aku digiring ke gudang sekolah dengan alasan dipanggil oleh salah seorang guru. Untung saja waktu itu seorang temanku tahu gelagat tak beres yang tampak dari si Satpam brengsek itu. Ia dan beberapa teman lain segera memanggil guru-guru ketika aku sudah mulai terpojok. Aku selamat dan satpam itu meringkuk sebulan di sel pengap.

Dua kali menjadi korban percobaan pemerkosaan, orang tuaku segera mengadakan upacara ruwatan. Walaupun papa mamaku bukan orang Jawa tulen (Tionghoa), tapi mereka percaya bahwa upacara ruwatan bisa menolak bahaya.

Selama dua tahun aku baik-baik saja. Tak ada lagi kejadian percobaan pemerkosaan atas diriku. Hanya kalau colak-colek sih memang masih sering terjadi, tapi selama masih sopan tak apalah. Tapi ketika aku duduk di bangku kelas tiga esemu. Kejadian itu terulang lagi. Teman sekelasku mengajakku berdugem ria ke diskotik. Aku pikir tak apalah sekali-kali, biar nggak kuper. Ini kan Jakarta, pikirku saat itu. Aku memang tak ikut minum-minum yang berbau alkohol, tapi aku tak tahu kalau jus jeruk yang aku pesan telah dimasuki obat tidur oleh temanku itu. Waktu dia menyeretku ke mobilnya aku masih sedikit ingat. Waktu dia memaksa menciumku aku juga masih ingat. Lalu dengan segala kekuatan yang tersisa aku berusaha berontak dan menjerit-jerit minta tolong. Aku kembali beruntung karena suara teriakanku terdengar oleh security diskotik yang kemudian datang menolongku.

Sejak itu aku merasa tak betah tinggal di Jakarta. Akhirnya aku segera dipindahkan ke Yogyakarta, tinggal bersama keluarga tanteku sambil terus melanjutkan sekolah. Awalnya ketenangan mulai mendatangiku. Hidupku berjalan secara wajar lurus teratur. Tanpa ada gangguan yang berarti, apalagi gangguan kejiwaan tentang trauma perkosaan. Aku sibuk sekolah dan juga ikutan les privat bahasa Inggris.

Tapi memasuki bulan kelima peristiwa itu benar-benar terjadi. Aku benar-benar diperkosa. Dan yang lebih kelewat batas. Bukannya lelaki yang memperkosaku, tapi wanita. Yah, aku diperkosa lesbian!! Dan lebih menyakitkan, yang melakukannya adalah guru privatku sendiri. Namanya Jude Kofl. Umurnya 25 tahun, tujuh tahun diatasku. Ia orang Wales yang sudah tujuh tahun menetap di Indonesia. Jadi Jude, begitu aku memanggilnya, cukup fasih berbahasa Indonesia. Jude tinggal tak sampai satu kilometer dari tempatku tinggal. Aku cukup berjalan kaki jika ingin ke rumah kontrakannya.

Kejadian itu bermula pada saat aku datang untuk les privat ke tempat Jude. Kadangkala aku memang datang ke tempat Jude kalau aku bosan belajar di rumahku sendiri, itupun kami lakukan dengan janjian dulu. Sebelum kejadian itu aku tidak pernah berpikiran macam-macam ataupun curiga kepada Jude. Sama sekali tidak! Memang pernah aku menangkap basah Jude yang memandangi dadaku lekat-lekat, pernah juga dia menepuk pantatku. Tapi aku kira itu hanya sekedar iseng saja.

Siang itu aku pergi ke tempat Jude. Ditengah jalan tiba-tiba hujan menyerang bumi. Aku yang tak bawa payung berlari-lari menembus hujan. Deras sekali hujan itu sampai-sampai aku benar-benar basah kuyup. Sampai di rumah Jude dia sudah menyongsong kedatanganku. Heran aku karena Jude masih mengenakan daster tipis tak bermotif alias polos. Sehingga apa yang tersimpan di balik daster itu terlihat cukup membayang. Lebih heran lagi karena Jude menyongsongku sampai ikut berhujan-hujan.

"Aduh Mel, kehujanan yah? Sampai basah begini.." sambutnya dengan dialek Britishnya.
"Jude, kenapa kamu juga ikut-ikutan hujan-hujanan sih, jadi sama-sama basah kan."
"Nggak apa-apa nanti saya temani you sama-sama mengeringkan badan."

Kami masuk lewat pintu garasi. Jude mengunci pintu garasi, aku tak menaruh kecurigaan sama sekali. Bahkan ketika aku diajaknya ke kamar mandinya, aku juga tak punya rasa curiga. Kamar mandi itu cukup luas dengan perabotan yang mahal, walau tak semahal milik tanteku. Di depanku nampak cermin lebar dan besar sehingga tubuh setiap orang yang bercermin kelihatan utuh.

"Ini handuknya, buka saja pakaian you. Aku ambilkan baju kering, nanti you masuk angin."
Jude keluar untuk mengambil baju kering. Aku segera melepas semua pakaianku, kecuali CD dan BH lalu memasukkannya ke tempat pakaian kotor di sudut ruangan.

"Ini pakaiannya,"
Aku terperanjat. Jude menyerahkan baju kering itu tapi tubuh Jude sama sekali tak memakai selembar kain pun. Aku tak berani menutup muka karena takut Jude tersinggung. Tapi aku juga tak berani menatap payudara Jude yang besar banget. Kira-kira sebesar semangka dan nampak ranum banget, tanda ingin segera dipetik. Berani taruhan, milik Jude nggak kalah sama milik si superstar Pamela Anderson.

"Lho kenapa tidak you lepas semuanya?" tanya Jude tanpa peduli akan rasa heranku.
"Jude, kenapa kamu nggak pakai baju kayak gitu sih?"
Jude hanya tersenyum nakal sambil sekali-sekali memandang ke arah dadaku yang terpantul di cermin. Kemudian Jude melangkah ke arahku. Aku jadi was-was, tapi aku takut. Aku kembali teringat pada peristiwa percobaan pemerkosaanku.

Jude berdiri tegak di belakangku dengan senyum mengembang di bibir tipisnya. Jemarinya yang lentik mulai meraba-raba mengerayangi pundakku.
"Jude! Apa-apaan sih, geli tahu!"
Aku menepis tangannya yang mulai menjalar ke depan. Tapi secepat kilat Jude menempelkan pistol di leherku. Aku kaget banget, tak percaya Jude akan melakukan itu kepadaku.

"Jude, jangan main-main!" aku mulai terisak ketakutan.
"It's gun, Mel and I tak sedang main-main. Aku ingin you nurut saja sama aku punya mau." Ujar Jade mendesis-desis di telinga Jade.
"Maumu apa Jude?"
"Aku mau sama ini.. ini juga ha..ha.."
"Auh.."

Seketika aku menjerit ketika Jude menyambar payudaraku kemudian meremas kemaluanku dengan kanan kirinya. Tahulah aku kalau sebenarnya Jude itu sakit, pikirannya nggak waras khususnya jiwa sex-nya. Buah dadaku masih terasa sakit karena disambar jemari Jude. Aku harus berusaha menenangkan Jude.
"Jude ingat dong, aku ini Melinda. Please, lepaskan aku.."
"Oh.. baby, aku bergairah sekali sama you.. oh.. ikut saja mau aku, yah.." Jude mendesah-desah sambil menggosok-gosokkan kewanitaannya di pantatku. Sedangkan buah dadanya sudah sejak tadi menempel hangat di punggungku. Matanya menyipit menahan gelegak birahinya.

"Jude, jangan dong, jangan aku.."
Muka Jude merah padam, matanya seketika terbelalak marah. Nampaknya ia mulai tersinggung atas penolakanku. Ujung pistol itu makin melekat di dekat urat-urat leherku.

"You can choose, play with me or.. you dead!"
Aah.. Dadaku serasa sesak. Aku tak bisa bernafas, apalagi berfikir tenang. Tak kusangka ternyata Jude orang yang berbahaya.
"Okey, okey Jude, do what do you want. Tapi tolong, jangan sakiti aku please.." rintihku membuat Jude tertawa penuh kemenangan.

Wajah wanita yang sebenarnya mirip dengan Victoria Beckham itu semakin nampak cantik ketika kulit pipinya merah merona. Jude meletakkan pistolnya di atas meja. Kemudian dia mulai menggerayangiku.

Jude mulai mencumbui pundakku. Merinding tubuhku ketika merasakan nafasnya menyembur hangat di sekitar leherku, apalagi tangannya menjalar mengusap-usap perutku. Udara dingin karena CD dan BHku yang basah membuatku semakin merinding.

Jemari Jade yang semula merambat di sekitar perut kini naik dan semakin naik. Dia singkapkan begitu saja BHku hingga kedua bukit kembarku itu lolos begitu saja dari kain tipis itu. Setiap sentuhan Jade tanpa sadar aku resapi, jiwaku goyah ketika jari-jari haus itu mengusap-usap dengan lembut. Aku tak tahu kalau saat itu Jade tersenyum menang ketika melihatku menikmati setiap sentuhannya dengan mata tertutup.

"Ah.. ehg.. gimana baby sweety, asyik?" kata Jude sambil meremas-remas kedua buah dadaku.
"Engh.." hanya itu yang bisa aku jawab. Deburan birahiku mulai terpancing.
"Engh.." aku mendongak-dongak ketika kedua puting susuku diplintir oleh Jude "Juude..ohh.."

Aku tak tahan lagi kakiku yang sejak tadi lemas kini tak bisa menyangga tubuhku. Akupun terjatuh ke lantai kamar mandi yang dingin. Jude langsung saja menubrukku setelah sebelumnya melucuti BH dan CDku. Kini kami sama-sama telah telanjang bagai bayi yang baru lahir.

"You cantik banget Mel, ehgh.." Jude melumat bibirku dengan binal.
"Balaslah Mel, hisaplah bibirku."
Aku balas menghisapnya, balas menggigit-gigit kecil bibir Jude. Terasa enak dan berbau wangi. Jude menuntun tanganku agar menyentuh buah dadanya yang verry verry montok. Dengan sedikit gemetar aku memegang buah dadanya lalu meremas-remasnya.

"Ah.. ugh.. Mel, oh.." Jude mendesis merasakan kenikmatan remasan tanganku. Begitupun aku, meletup-letup gairahku ketika Jude kembali meremas dan memelintir kedua bukit kembarku.
"Teruslah Mel, terus .."
Lalu Jude melepaskan ciumannya dari bibirku.
"Agh.. Oh.. Juude.."
Aku terpekik ketika ternyata Jude mengalihkan cumbuannya pada buah dadaku secara bergantian. Buah dadaku rasanya mau meledak.
"Ehg.. No!!" teriakku ketika jemari Jude menelusuri daerah kewanitaanku yang berbulu lebat.
"Come on Girl, enjoy this game. Ini masih pemanasan honey.."

Pemanasan dia bilang? Lendir vaginaku sudah mengucur deras dia bilang masih pemanasan. Rasanya sudah capek, tapi aku tak berani menolak. Aku hanya bisa pasrah menjadi pemuas nafsu sakit Jude. Walau aku akui kalau game ini melambungkan jiwaku ke awang-awang.

Jude merebahkan diri sambil merenggangkan kedua pahanya. Bukit kemaluannya nampak jelas di pangkal paha. Plontos licin. Lalu Jude memintaku untuk mencumbui vaginanya. Mulanya aku jijik, tapi karena Jude mendorong kepalaku masuk ke selakangannya akupun segera menciumi kewanitaan Jude. Aroma wangi menyebar di sekitar goa itu. Lama kelamaan aku menciuminya penuh nafsu, bahkan makin lama aku makin berani menjilatinya. Juga mempermainkan klitnya yang mungil dan mengemaskan.
"Ahh.. uegh.." teriak Jude sedikit mengejan.
Lalu beberapa kali goa itu menyemburkan lendir berbau harum.
"Mel, hisap Mel.. please.." rengek Jude.
Sroop.. tandas sudah aku hisap lendir asin itu.
Suur.. kini ganti vaginaku yang kembali menyemburkan lendir kawin.
"Jude aku keluar.." ujarku kepada Jude.
"Oya?" Jude segera mendorongku merebah di lantai. Lalu kepalanya segela menyusup ke sela-sela selakanganku.

Gadis bule itu menjilati lendir-lendir yang berserakan di berbagai belantara yang tumbuh di goa milikku. Aku bergelinjangan menahan segala keindahan yang ada. Jude pandai sekali memainkan lidahnya. Menyusuri dinding-dinding vaginaku yang masih perawan.
"Aaah.." kugigit bibirku kuat kuat ketika Jude menghisap klit-ku, lendir kawinkupun kembali menyembur dan dengan penuh nafsu Jude menghisapinya kembali.
"Mmm.. delicious taste." Gumamnya.
Jude segera memasukkan batang dildo yang aku tak tahu dari mana asalnya ke dalam lubang kawinku.

"Ahh..!! Jude sakit.."
"Tahan sweety.. nanti juga enak.."

Jude terus saja memaksakan dildo itu masuk ke vaginaku. Walaupun perih sekali akhirnya dildo itu terbenam juga ke dalam vaginaku. Jude menggoyang-goyangkan batang dildo itu seirama. Antara perih dan nikmat yang aku rasakan. Jude semakin keras mengocok-ngocok batang dildo itu. Tiba-tiba tubuhku mengejang, nafasku bagai hilang. Dan sekali lagi lendir vaginaku keluar tapi kali ini disertai dengan darah. Setelah itu tubuhku pun melemas.

Air mataku meleleh, aku yakin perawanku telah hilang. Aku sudah tak pedulikan lagi sekelilingku. Sayup-sayup masih kudengar suara erangan Jude yang masih memuaskan dirinya sendiri. Aku sudah lelah, lelah lahir batin. Hingga akhirnya yang kutemui hanya ruang gelap.

Esoknya aku terbangun diatas rajang besi yang asing bagiku. Disampingku selembar surat tergeletak dan beberapa lembar seratus ribuan. Ternyata Jude meninggalkannya sebelum pergi. Dia tulis dalam suratnya permintaan maafnya atas kejadian kemarin sore. Dan dia tulis juga bahwa dia takkan pernah kembali untuk menggangguku lagi. Aku pergi dari rumah kontrakan terkutuk itu seraya bertekad akan memendam petaka itu sendiri.

Ibuku Ternyata Lesbian

Ibuku Ternyata Lesbian
Suatu hari pada awal bulan September. Ketika itu aku pulang dari kuliah. Dan di meja komputerku tergeletak sebuah amplop. Kubuka amplop itu yang memang ditujukan kepadaku. Kubaca tulisan pada kertas yang terdapat di dalam amplop tersebut. "Ibu minta maaf. Ibu telah mengetahui kelainanmu dan juga telah membaca ceritamu yang dimuat pada sebuah situs. Tapi ibu tidak akan marah. Karena ibu juga pernah mengalaminya. Tolong coret-coretan ibu pada kertas ini kamu ketik dengan kata-katamu dan kirim ke situs yang sama. Terima kasih". Coret-coretan ibu di bawah suratnya dan dibaliknya lalu kuketik dengan kata-kataku sendiri Dan hasilnya adalah seperti di bawah ini.

Suatu hari ibuku yang berusia 45 tahun pergi bersama ibu-ibu tetangga yang juga sebaya dengan ibuku ke rumah Ibu Tanti yang pindahan dari luar kota. Ibuku bersama Ibu Nunik, Ibu Desy dan Ibu Indah (nama-nama di atas menurut ibuku bukan nama yang sebenarnya). Mereka berbincang-bincang di ruang tamu. Ibu Desy ternyata menemukan sebuah VCD porno di tumpukan majalah.
Dia bertanya, "Bu Tanti.., Ini punya siapa?"
Bu Tanti kelihatan terkejut dan berusaha merebut VCD itu sambil berkata, "Jangan Bu Desy.., Saya malu.."
Lalu dijawab oleh Ibu Desy, "Diputar boleh kan?"
Ibu Tanti hanya diam saja ketika Ibu Desy memasang VCD itu ke VCD player dan memutarnya.

Pada mulanya ibuku dan ibu-ibu lainnya hanya diam saja melihat adegan dalam film itu. Tapi beberapa menit kemudian Ibu Tanti terlihat mengangkat dasternya sampai perutnya kelihatan dan tangannya masuk ke dalam CD-nya. Ibu Indah yang melihat itu berkata, "Mari saya bantu Bu..", Sambil dia menghampiri Ibu Tanti. Dilepaskannya daster yang dipakai Ibu Tanti. Kemudian Ibu Indah duduk di belakang Ibu Tanti, dari belakang tangannya masuk ke dalam CD yang dipakai Ibu Tanti. Melihat hal itu Ibu Nunik dan Ibu Desy yang duduk berdampingan saling memandang dan entah siapa yang mulai keduanya sudah berdiri saling berciuman. Mereka saling melepas pakaian yang dipakai dan menyisakan pakaian dalam. Begitu juga dengan ibuku yang juga berdiri melepas pakaiannya dan sekaligus melepas BH-nya.

Ibuku meremas payudaranya sendiri kemudian menghampiri Ibu Nunik dan Ibu Desy yang sedang berciuman. Dari belakang ibuku melepas BH yang dipakai Ibu Nunik dan menempelkan kedua payudaranya ke punggung Ibu Nunik. Tangannya juga maju ke depan meremas kedua payudara Ibu Nunik sehingga Ibu Nunik melepaskan ciuman pada bibir Ibu Desy. Ibu Desy lalu melepas BH-nya dan memeluk Ibu Nunik dari depan. Sementara itu Ibu Tanti dan Ibu Indah sudah telanjang bulat, saling berpelukan dan berciuman.

Kejadian yang paling dinikmati ibuku pada waktu itu adalah ketika ibuku telentang. Dia diduduki Ibu Tanti sehingga kedua liang kenikmatan mereka saling bergesekan. Sementara payudara kirinya dihisap oleh Ibu Desy dan payudara kanannya diremas Ibu Indah. Sedangkan Ibu Tanti sendiri saling berciuman dan saling meremas payudara dengan Ibu Nunik. Ibu Desy dan Ibu Indah juga saling meremas payudara dibantu kedua tangan ibuku. Kajadian itu sungguh menegangkan, bergantian mereka saling meremas payudara, saling menggesek liang kenikmatan dan berakhir dengan orgasme yang begitu dahsyat di antara mereka.

Setelah sampai di rumah, ibuku yang melewati kamarku mendengar desahan-desahan dari dalam kamarku. Ibuku penasaran dan mengintip dari lubang kunci pintu kamarku dan melihat aku dan Ambar sedang berdiri saling menggesekkan kemaluan dan kedua payudara. Ibuku langsung pergi ke belakang dan melewati kamar Inem (juga bukan nama yang sebenarnya) yang terbuka. Dilihatnya Inem sedang tidur dengan rok yang tersingkap sampai pahanya kelihatan dan kancing baju bagian atas yang terbuka. Gairah ibuku muncul ketika teringat kejadian di rumah Ibu Tanti sehingga ibuku menghampiri Inem. Dielusnya paha Inem dan bibirnya mencium bibir Inem. Inem kelihatan terbangun tetapi matanya masih terpejam dan kelihatan menikmati ciuman dari ibuku. Inem kemudian membuka matanya dan kaget. Dilepaskannya ciuman ibuku sambil berkata berulang-ulang.

"Jangan Bu.." Ibuku membungkam perkataan Inem dengan ciumannya dan akhirnya Inem pun kelihatan menikmatinya. Bahkan lidahnya menjilat lidah ibuku. Ibuku semakin berani. Kancing baju Inem dilepaskan satu persatu lalu ibuku meremas payudara Inem yang lumayan besar hampir sama dengan payudara ibuku yang berukuran 36B. Ibuku lalu membalikkan tubuh Inem sehingga Inem tengkurap. BH Inem dilepaskan dari belakang dan didudukinya pantat Inem. Tangan ibuku mengusap-usap punggung Inem, lalu salah satu tangannya turun ke bawah meremas payudara Inem sedangkan tangan satunya melepaskan bajunya sendiri. Setelah itu ibuku membalikkan lagi tubuh Inem. Dilihatnya Inem tersenyum. Ibuku kemudian menghisap payudara Inem dan kedua tangan Inem melepas BH yang dipakai ibuku sehingga kini mereka saling meremas kedua payudara pasangannya.

Setelah beberapa lama saling meremas payudara, ibuku menindih tubuh Inem dan kedua payudara mereka saling menempel. Keduanya mendesah pelan. Ibuku mencium kembali bibir Inem dan tangannya melepas celana panjangnya. Ibuku kemudian duduk di samping Inem sambil tetap menciumnya. Kedua tangannya melepaskan apa yang masih tersisa di tubuh Inem. Inem kini sudah telanjang bulat. Dikangkangkannya kaki Inem sehingga bibir kemaluannya merekah. Bibir ibuku turun ke bawah dan langsung menghisap dan menjilati liang kemaluan Inem sambil tangan kanannya meremas kedua payudara Inem bergantian dan tangan kirinya mengelus pahanya, dilanjutkan jarinya yang masuk ke lubang kenikmatan Inem.

Lama sekali ibuku memperlakukan Inem dengan mesra. Sampai Inem mengerang berkali-kali. Inem akhirnya lemas setelah liang kenikmatannya dikocok dengan jari ibuku disamping dihisap dan dijilat. Ibuku bangkit dari tempat tidur dan mengambil bajunya. Tiba-tiba Inem dari belakang memeluk ibuku dan tangannya masuk ke dalam CD yang masih dipakai ibuku. "Nem sabar dulu ya.., Kita bergabung dengan Mitha dan temannya.." Sambil menarik Inem yang masih telanjang. Ibuku dan Inem masuk ke kamarku dan ternyata aku dan Ambar sudah pergi.

Inem memegang sesuatu dan dari belakang melepas CD yang dipakai ibuku. Ibuku hanya diam saja. Inem memasukkan benda yang dipegangnya, yang ternyata sebuah dildo ke dalam liang kemaluan ibuku. Perlahan Inem mengeluarmasukkan dildo itu sambil mengocoknya. Ibuku mengerang keras dan Inem maju ke depan, ujung dildo yang satunya dimasukkannya ke dalam lubang kemaluannya sendiri. Inem mengerang lebih keras dari ibuku dan disambut dengan ciuman dari ibuku. Mereka saling berciuman, berjilatan lidah, menggesekkan kedua payudara yang menempel dan mengeluar masukkan dildo ke dalam liang kenikmatan mereka ditambah dengan kedua tangan mereka yang saling meremas pantat mereka yang kenyal hingga mereka mencapai orgasme.

Setelah kejadian itu Inem berhenti bekerja dari rumahku. Ibuku mengira Inem marah karena diperlakukan begitu oleh ibuku. Tetapi ternyata tidak, setelah ibuku memergoki Inem sedang bermesraan dengan teman sesama pembantu di tempatnya bekerja yang dulu. Memang sebelum aku menjadi lesbian, Inem pernah bercerita kepadaku bahwa dia pindah ke sini karena di tempatnya bekerja yang dulu pernah waktu tidur digerayangi tubuhnya oleh temannya sesama pembantu wanita. Dia marah lalu berhenti bekerja dari tempatnya bekerja yang dulu.

Begitulah kisah ibuku yang ternyata lesbian. Buat para pembaca wanita, yang ingin berkenalan denganku silakan kirim e-mail kepada saya. Juga tolong sertakan biodata diri dan foto serta pengalaman pertama kali menjadi lesbi.

Benih Cinta Sejenis

This summary is not available. Please click here to view the post.